Halaman

Selasa, 03 Juli 2012

Love ~ Part 3

Masih inget cerita aku sebelumny.?
Nih aku kasih deh, biar bisa inget lg..
Review dulu y: “Apa kamu dan Yuki sedang menjalin hubungan sekarang? Pacaran, mungkin ?” 
========================================================================

~Hanya Sahabat atw Lebih?~

Suara detak jantung Yuki sangat kecang. Ia merasa takut menjawab pertanyaan Bu Hanny. Stefan yang mengetahui hal itu segera menggenggam tangan Yuki meyakinkan bahwa tak akan terjadi apa².
“Iya, bu. Kami memang sedang menjalin hubungan.”
Yuki terkejut atas pernyataan Stefan.
“Kami menjalin hubungan PERSAHABATAN, hanya itu.”
Lanjut Stefan membuat Yuki lebih baik.
“Hahaha.. Kenapa wajah kalian jadi tegang begitu? Ibu hanya bercanda tadi. Ibu melihat kalian sangat serasi. Maka dari itu, ibu ingin menawarkan kalian sesuatu.”
“Astaga, ibu membuat kami terkejut saja. Tawaran apa, bu?”
“Main drama? Mw?”
“Em.. Akan kami pikirkan, bu”
“Baiklah. Jika sudah menemukan jawaban ny. Hubungi ibu segera.”
“Baik, bu. Permisi.”

Beberapa teman sudah menunggu di depan ruangan Bu Hanny. Wajah mereka tampak khawatir sama persis dengan wajah Yuki dan Stefan ketika dipanggil oleh ibu itu.
“Stef – Ky, apa yg dikatakan Bu Hanny pada kalian?”
“Tidak ada apa².. Memangny kenapa?”
“Kami juga ikut dipanggil oleh Bu Hanny.”
“Oh begitu. Selamat berjuang, ok?”
Stefan dan Yuki meninggalkan ruangan Bu Hanny dan berjalan beriringan menuju kelas mereka. Pelajaran sudah dilanjutkan.

~YUKI POV!
Stefan hebat. Rasany sangat menegangkan tadi, namun saat Stef menggenggam tanganku semuany hilang dan tak bersisa. Nyaman dan tenang. Makasi, Stef. Masalah drama itu, aku juga bingung mw ikut serta atw tidak.
“Ky..”
“Hah? Iya, Stef..”
“Kita udah di depan kelas. Tangan?”
“Oh, maaf..”
Bagaimana mungkin aku bisa melamun? Hah! Jadi malu kan? Untung sama Stefan. Kalau sama yg lain kan bisa – bisa diketawain.. Yuki!

Huh! Akhirnya sampai di rumah.. Aku mulai berbaring di atas tempat tidurku. Masih dengan seragam yang lengkap. Hari ini, hari yang luar biasa.
“Ky..”
“Iya?”
“Kamu mau ikut drama sekolah itu?”
“Emm.. Aku juga gak tw, Stef.”
“Kalau kamu gak ikut, aku gak ikut y.”
“Kenapa gitu?”
“Gk apa. Eh, aku ada di lapangan basket. Mau ikut main?”
“Jalan ke sana?”
“Males banget sih, siput..”
“Ah, Stefan!”
“Aku jemput sekarang.”
“Ok!”

~STEFAN POV!
Itu lh kelakuan si siput, kalau gak ngerepotin bukan siput namany. Udah 10 menit aku nunggu di depan rumany. Bisa² gak jadi main basket.
“Stef! Sorry..”
“Iya. Ayo cepetan.”

Sebenarny Yuki belum terlalu jago main basket. Dia sih males banget kalo di suruh ikut. Aku selalu mengajariny sejak umur kami 12 tahun. Dan ini lah perkembanganny. Yuki yang pertamany takut liat bola, sudah bisa nyetak angka. Permainan sangat seru. Aku selalu mengecoh Yuki dengan bola – bola kecil yang sulit dia dapatkan..
“Stefan, berhenti mainin bolany. Oper dong!”
“Dasar, jangan teriak – teriak. Ambil kalau bisa.”
Hahaha.. Yuki, Yuki.. Aku memelukny sekejap dan langsung Lay Up. Masuk!
Yuki mengambil bola orange itu dan three poin. Dia sudah bisa melakukanny sekarang.
Aku persis dibelakangny, jarak kami berkisar 10 cm. Yuki berbalik. Kami saling memandang.

Byurrrr…. Hujan tiba – tiba turun dan dengan derasny.
Tak ada yg berubah, kami tetap berada di posisi itu.
Dia tersadar dari lamunan ny dan mengambil bola, mendribleny.
“Yuki!”

~YUKI POV!
Dia, lagi lagi dia. Menyelamatkanku.. Bahkan saat hujan mengusikku dengan licinny lapangan itu. Makasih, Stef. Aku tak berani membuka mata, seakan telah tw apa yg terjadi sekarang.
Aku dan Stefan.. Tak bisa digambarkan. Stefan di bawah dan aku di atas. Apakah dia kesakitan ketika meghantam lapangan semen ini? Stef? Perlahan aku memberanikan diri membuka mataku, kulihat dia. Dia juga memejamkan mata. Aku jadi takut terjadi apa – apa. Kuguncangkan badanny. Ia tak sadar juga.
“Stefan? Kamu kenapa? Bangun Stef..”
Tak ada tanda – tanda kehidupan. Aku meletakan kepalanya di pahaku. Stef! Aku menangis.
Menagis sejadi – jadiny. Apa yang terjadi?
Apa Stefan baik – baik saja?

~STEFAN POV!
Aku pura – pura. Yuki sayang, maaf ya. Aku cuma mau liat kalau aku kenapa², apa yang kamu lakukan? Sudah cukup pikirku. Perlahan – lahan aku buka mataku sambil menahan tawa.
“Stefan! Kamu bohong kan? Ih, dasar! Im afraid cause you!”
Yuki berteriak sambil memukulku menggunakan bola basket.
“Udah, Ky. Sakit beneran nih. Aduh.”
“Yang mana? Maaf y, kamu sih.”
Dia kembali khawatir sambil memegang tanganku.
“Sayangny itu boong..”
“Stefan!”
Sebenarny aku masih betah tiduran di pahany. Namun apa bolah buat, aku harus bangun. Kulihat dia terkejut melihatku bangun. Dia ingin berdiri dan melarikan diri. Kutahan tanganny dan kutarik perlahan.

Yuki jatuh dipelukanku. Aku memelukny erat. Erat sekali. Momment yang indah ini tidak akan terulang lagi, kan? Dia diam saja. Entah apa yang dilakukanny. Yang penting ku ingin memelukny sebentar saja.
“Sebentar saja, Ky.”

Hujan masih menemani kami yang hanya berdua di lapangan luas itu. Sepertiny orang² sudah tau kalau hari ini akan hujan deras. Aku merasakan Yuki kedinginan. Badanny menggigil. Sejak kecil, Yuki tak pernah menyukai dingin. Aku tak tega melihatny. Aku berdiri dan mengajakny menuju motorku. Dia terus memeluku. Aku buka jok motor, kuambil jaket cadanganku. Kukenakan dibadanny. Dia tersenyum.
“Makasi.”
“Kita pulang, ya.”
Aku mengantarnya pulang. Tapi kulihat rumahny gelap.
“Ky, semuanya kemana?”
“Papa keluar kota, Mama arisan tadi.”
“Kenapa kamu gak bilang dari awal, aku bisa bawa kamu ke rumahku aja.”
“Maaf.”
Aku memacu motorku secepat dia bisa. Perjalanan dari rumah Yuki menuju rumahku, Yuki memelukku sangat kuat. Aku hanya tak mau dia sakit. Hujan tak henti²ny menghantam kami. Reda lah hujan untuk sebentar saja, harapku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar