Masih inget cerita aku sebelumny.?
Nih aku kasih deh, biar bisa inget lg..
Review dulu y: “Apa kamu dan Yuki sedang menjalin hubungan sekarang? Pacaran, mungkin ?”
========================================================================
~Hanya Sahabat atw Lebih?~
Suara
detak jantung Yuki sangat kecang. Ia merasa takut menjawab pertanyaan
Bu Hanny. Stefan yang mengetahui hal itu segera menggenggam tangan Yuki
meyakinkan bahwa tak akan terjadi apa².
“Iya, bu. Kami memang sedang menjalin hubungan.”
Yuki terkejut atas pernyataan Stefan.
“Kami menjalin hubungan PERSAHABATAN, hanya itu.”
Lanjut Stefan membuat Yuki lebih baik.
“Hahaha..
Kenapa wajah kalian jadi tegang begitu? Ibu hanya bercanda tadi. Ibu
melihat kalian sangat serasi. Maka dari itu, ibu ingin menawarkan kalian
sesuatu.”
“Astaga, ibu membuat kami terkejut saja. Tawaran apa, bu?”
“Main drama? Mw?”
“Em.. Akan kami pikirkan, bu”
“Baiklah. Jika sudah menemukan jawaban ny. Hubungi ibu segera.”
“Baik, bu. Permisi.”
Beberapa
teman sudah menunggu di depan ruangan Bu Hanny. Wajah mereka tampak
khawatir sama persis dengan wajah Yuki dan Stefan ketika dipanggil oleh
ibu itu.
“Stef – Ky, apa yg dikatakan Bu Hanny pada kalian?”
“Tidak ada apa².. Memangny kenapa?”
“Kami juga ikut dipanggil oleh Bu Hanny.”
“Oh begitu. Selamat berjuang, ok?”
Stefan dan Yuki meninggalkan ruangan Bu Hanny dan berjalan beriringan menuju kelas mereka. Pelajaran sudah dilanjutkan.
~YUKI POV!
Stefan
hebat. Rasany sangat menegangkan tadi, namun saat Stef menggenggam
tanganku semuany hilang dan tak bersisa. Nyaman dan tenang. Makasi,
Stef. Masalah drama itu, aku juga bingung mw ikut serta atw tidak.
“Ky..”
“Hah? Iya, Stef..”
“Kita udah di depan kelas. Tangan?”
“Oh, maaf..”
Bagaimana
mungkin aku bisa melamun? Hah! Jadi malu kan? Untung sama Stefan. Kalau
sama yg lain kan bisa – bisa diketawain.. Yuki!
Huh!
Akhirnya sampai di rumah.. Aku mulai berbaring di atas tempat tidurku.
Masih dengan seragam yang lengkap. Hari ini, hari yang luar biasa.
“Ky..”
“Iya?”
“Kamu mau ikut drama sekolah itu?”
“Emm.. Aku juga gak tw, Stef.”
“Kalau kamu gak ikut, aku gak ikut y.”
“Kenapa gitu?”
“Gk apa. Eh, aku ada di lapangan basket. Mau ikut main?”
“Jalan ke sana?”
“Males banget sih, siput..”
“Ah, Stefan!”
“Aku jemput sekarang.”
“Ok!”
~STEFAN POV!
Itu
lh kelakuan si siput, kalau gak ngerepotin bukan siput namany. Udah 10
menit aku nunggu di depan rumany. Bisa² gak jadi main basket.
“Stef! Sorry..”
“Iya. Ayo cepetan.”
Sebenarny
Yuki belum terlalu jago main basket. Dia sih males banget kalo di suruh
ikut. Aku selalu mengajariny sejak umur kami 12 tahun. Dan ini lah
perkembanganny. Yuki yang pertamany takut liat bola, sudah bisa nyetak
angka. Permainan sangat seru. Aku selalu mengecoh Yuki dengan bola –
bola kecil yang sulit dia dapatkan..
“Stefan, berhenti mainin bolany. Oper dong!”
“Dasar, jangan teriak – teriak. Ambil kalau bisa.”
Hahaha.. Yuki, Yuki.. Aku memelukny sekejap dan langsung Lay Up. Masuk!
Yuki mengambil bola orange itu dan three poin. Dia sudah bisa melakukanny sekarang.
Aku persis dibelakangny, jarak kami berkisar 10 cm. Yuki berbalik. Kami saling memandang.
Byurrrr…. Hujan tiba – tiba turun dan dengan derasny.
Tak ada yg berubah, kami tetap berada di posisi itu.
Dia tersadar dari lamunan ny dan mengambil bola, mendribleny.
“Yuki!”
~YUKI POV!
Dia,
lagi lagi dia. Menyelamatkanku.. Bahkan saat hujan mengusikku dengan
licinny lapangan itu. Makasih, Stef. Aku tak berani membuka mata, seakan
telah tw apa yg terjadi sekarang.
Aku dan Stefan.. Tak bisa
digambarkan. Stefan di bawah dan aku di atas. Apakah dia kesakitan
ketika meghantam lapangan semen ini? Stef? Perlahan aku memberanikan
diri membuka mataku, kulihat dia. Dia juga memejamkan mata. Aku jadi
takut terjadi apa – apa. Kuguncangkan badanny. Ia tak sadar juga.
“Stefan? Kamu kenapa? Bangun Stef..”
Tak ada tanda – tanda kehidupan. Aku meletakan kepalanya di pahaku. Stef! Aku menangis.
Menagis sejadi – jadiny. Apa yang terjadi?
Apa Stefan baik – baik saja?
~STEFAN POV!
Aku
pura – pura. Yuki sayang, maaf ya. Aku cuma mau liat kalau aku kenapa²,
apa yang kamu lakukan? Sudah cukup pikirku. Perlahan – lahan aku buka
mataku sambil menahan tawa.
“Stefan! Kamu bohong kan? Ih, dasar! Im afraid cause you!”
Yuki berteriak sambil memukulku menggunakan bola basket.
“Udah, Ky. Sakit beneran nih. Aduh.”
“Yang mana? Maaf y, kamu sih.”
Dia kembali khawatir sambil memegang tanganku.
“Sayangny itu boong..”
“Stefan!”
Sebenarny
aku masih betah tiduran di pahany. Namun apa bolah buat, aku harus
bangun. Kulihat dia terkejut melihatku bangun. Dia ingin berdiri dan
melarikan diri. Kutahan tanganny dan kutarik perlahan.
Yuki
jatuh dipelukanku. Aku memelukny erat. Erat sekali. Momment yang indah
ini tidak akan terulang lagi, kan? Dia diam saja. Entah apa yang
dilakukanny. Yang penting ku ingin memelukny sebentar saja.
“Sebentar saja, Ky.”
Hujan
masih menemani kami yang hanya berdua di lapangan luas itu. Sepertiny
orang² sudah tau kalau hari ini akan hujan deras. Aku merasakan Yuki
kedinginan. Badanny menggigil. Sejak kecil, Yuki tak pernah menyukai
dingin. Aku tak tega melihatny. Aku berdiri dan mengajakny menuju
motorku. Dia terus memeluku. Aku buka jok motor, kuambil jaket
cadanganku. Kukenakan dibadanny. Dia tersenyum.
“Makasi.”
“Kita pulang, ya.”
Aku mengantarnya pulang. Tapi kulihat rumahny gelap.
“Ky, semuanya kemana?”
“Papa keluar kota, Mama arisan tadi.”
“Kenapa kamu gak bilang dari awal, aku bisa bawa kamu ke rumahku aja.”
“Maaf.”
Aku
memacu motorku secepat dia bisa. Perjalanan dari rumah Yuki menuju
rumahku, Yuki memelukku sangat kuat. Aku hanya tak mau dia sakit. Hujan
tak henti²ny menghantam kami. Reda lah hujan untuk sebentar saja,
harapku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar