Part
ini aku gak tw bisa dibilang menegangkan atau tidak..
Tapi
aku rasa part ini akan membuat readers, senyam – seyum deh..
Let's goo! Cekidoot~
=========================================================
~Cantik!~
Sampai
di rumah, Mamaku yang membukakan pintu sangat khawatir terhadap Yuki.
“Stefan,
Yuki kenapa?”
“Kehujanan,
Ma”
Aku
menggendong Yuki, membawany menuju kamarku. Kubaringkan dia di ranjangku.
Secepat yang aku bisa, aku mengobrak – abrik lemariku mencari baju yang pas
untuk Yuki. Tapi hasilny nihil. Kuambil kemeja putihku yang menjadi baju
kesukaan Yuki. Ia selalu berkata, aku terlihat keren saat mengenakanny.
“Stef..”
“Iya,
Ky?”
“Gk
usah repot²”
“Ini
bajuny. Kamu ganti sana.”
Yuki
mengganti bajuny, sementara aku turun untuk mengambil bubur dan teh hangat yang
sudah mama buatkan.
“Stef.”
“Iya,
Ma?”
“Kamu
juga ganti baju, sana..”
“Iya,
Ma..”
Aku
naik ke atas. Yuki sudah selesai ganti baju. Lucu sekali melihatny menggunakan
kemeja itu. Kebesaran dan kepanjangan.
“Stef,
aku lucu y?”
“Hahaha.
Nggak kok. Nih makan dulu buburny. Tehny juga diminum ya.”
“Makasi
y, Stef”
Yuki
memelukku lagi.
“Ky,
aku belum ganti baju. Entar baju kamu basah.”
“Oh
iya.”
“Aku
ganti baju dulu ya.”
Aku
berjalan menuju kamar mandi. Ketika kututup pintuny, baru aku sadari kalau aku
belum mengambil baju ganti di lemari. Bodohny aku. Stefan Immanuel, alangkah
cerobohny dirimu! Gak mungkinkan, bilang ke Yuki tolong ambilin bajuny. Astaga.
Terpaksa deh, lepas baju aja. Untung celana cadangan ada di kamar mandi. Udah
lengket semua rasany karena hujan.
~YUKI
POV!
Stefan
baik banget. Maafkan aku ya yang selalu ngerepotin kamu. Tapi Stefan di kamar
mandi ngapain? Kan di belum ambil baju gantiny. Stefan keluar dari kamar mandi
tanpa mengenakan atasan. Wah, ternyata badan Stefan tuh putih dan berbentuk. Kok
aku gk pernah tw y? Yuki! Apa yang kamu pikirkan? Aku pura – pura tak
melihatny. Stefan keren banget! Apalagi saat mengancingkan kemejany. Aku bisa
meleleh. Dia seperti cowok²
cover boy. Atw anggota boy band korea.
“Ky?
Hello?”
“Oh,
kenapa Stef?”
“Minta
dong, buburny, pengen nih..”
Astaga
YUKI! Babo!*bodoh..
“Nih..”
Aku
berikan semangkuk bubur yang baru separuh aku makan.
“Dikit
aja, Ky.Bukan satu mangkuk juga.”
“Oh..”
Sekali
lagi aku terlihat bodoh… Sadar Yuki! Sadar!
Stefan
duduk di sebelahku, membuka mulutny besar – besar.
Aku
menyuapi Stefan.
“Enak
y, Ky? Aku mau ahh..”
Stefan
berlari ke dapur. Huh! Aku lega. Kenapa aku kikuk di depan Stefan? Biasanya
apapun yang Stefan lakukan tak pernah membuatku begitu.
~STEFAN
POV!
Aduh
badan rasanya pegel semua. Perut keroncongan. Udah bunyi :krucuk~ krucuk~
krucuk! *ngayal penulisny. Maaf!*
“Ma,
Stefan minta buburny dong.”
“Ambil
aja sana, ada di panci.”
Kuambil
sendok dari meja makan dan kubawa panci itu ke halaman belakang. Emm.. Enak
banget bubur ayam buatan mama.
Setelah
selesai menghabiskan setengah panci bubur. Aku melihat hujan sudah mulai reda.
Saatny mengantarkan Yuki pulang.
Baru
selangkah aku masuk ke kamar, kuliat Yuki tengah terlelap di dinding *uuppss!
Sorry penulis gak tw apa namany itu. Yg pasti senderan yg di atas kepala itu
lho.* tempat tidurku. Kepalany miring ke kiri. Miring ke kanan. Lucu sekali. Ah
aku juga jadi mengantuk..
Aku
naik ke atas tempat tidur, lalu senderan tepat di sebelah kanan Yuki. Dan yg
terakhir aku meletakan kepalany di bahu kiriku. Aku terlelap..
Ponsel
berdering kencang sekali. Kurasa itu bukan nada deringku. Aku ingat itu nada
dering Yuki. Aku masih mengucek²
mataku dan Yuki terbangun serta kaget akan kehadiranku.
“Ky,
siapa sih yg nelpon.. Ganggu orang tidur aja.”
“Oh,
sorry Stef. Mama yg nelpon.”
Setelah
cukup lama bertelepon dengan mamany, Yuki menarik kemejaku.
“Stef,
aku mau pulang!”
“Iy,
5 menit lagi..”
“Stefan!”
“Aduh,
ya sudah. Ayo aku antar.”
Yuki
memaksaku untuk mengantarny pulang. Aku berlari ke garasi, kulihat motorku
masih basah. Ya apa boleh buat, aku mengantarny pakai mobil saja. Mobil yg
tersedia hanya Jazz Putih. Berarti mama sedang pergi sekarang.
“Stef,
mama kamu mana?”
“Pergi.”
“Oh
ya sudah, titip salam ya. Bilang terima kasih dan maaf merepotkan.”
Sebelum
Yuki membuka pintu mobil, aku menarik tanganny. Yuki pun terhempas begitu dekat
denganku.
“Apa
Stef?”
Aku
mendekatkan diri, makin mendekatkan diri padany. Dan #cup# keningny.
“Selamat
malam, Cantik. Tidur yg nyenyak. Aku jemput besok.”
Yuki
masih terdiam. Terkejut dan mematung. Aku tidak peduli, entah mengapa aku ingin
melakukanny. Aku melaju cepat. Lelah rasany terlalu lama berkendara hari ini.
Aku
telentang di atas tempat tidur, masih ada aroma Yuki di kamarku. Aku menyukai
aroma itu. Menyejukan rasany. Lalu aku menerawang jauh. Aku tak pernah ingat
kapan tepatny Yuki berubah, tapi aku masih ingat betul kapan aku pertama kali
menyadariny. Ketika pertama kali masuk SMA. Baju seragam yg belum jadi
memaksakan kami untuk sementara menggunakan seragam SMP kami.
Aku
tertawa melihat Yuki, yang kerap kali menarik rokny ke sana – ke sini karena
pendekny rok itu. Lalu belum lagi rambutny yang sudah panjang dan agak ikal
membuatny semakin risih. Iya, itu Yuki dan masih Yuki yang sama, tapi itu bukan
Yuki dan Yuki yg sudah berbeda. Entah sejak kapan kedua kakiny mulai memanjang
dan lekuk pinggangny mulai terbentuk. Belum lagi kulit putih nan halus terasa
lembut bila bersentuhan dengan ku. Oh, Yuki. Matanya yang bulat, bibirny yang
pink kemerahan dan leherny yg jenjang. Yuki benar² cantik. Aku tak pernah menyadari
bahwa aku memiliki seorang sahabat perempuan yang manis. Karena selama ini,
Yuki selalu menjadi teman yang tangguh bagiku. Aku juga tak pernah menyangka
bahwa aku juga akan tertarik kepada Yuki.
Dan
hal yg paling aneh adalah perasaanku. Hati ini berdegup kencang. Perasaanku
yang sering bergejolak, jantung ku yang sering berdebar tak karuan dan salah
tingkah yg aku lakukan jika tersadar akan perubahan pada diri Yuki. Aku
mengingat lagi wajah dan postur tubuh Yuki saat mengenakan kemejaku tadi.
Cantik! Apakah aku menyukai Yuki? Entahlah aku tak mau memikirkanny.. Belum
pasti, jawabanya. Aku terlelap kembali. Dan mulai bermimpi tentang Yuki.
Hidupku kini hanyalh dipernuhi oleh Yuki seorang.