Halaman

Kamis, 17 November 2011

Hanya Aku dan Hidupku


Hampa dan kelam menyelimuti diriku yang tengah duduk manis di bawah terangnya sinar rembulan. Bangunan raksasa nan megah di belakangku pun merasakan hal yang sama. Sepi, hampa yang kami rasa. Hanya sang rembulanlah yang selalu setia mendengar keluh kesah yang aku utarakan.
Aku bukanlah anak yatim piatu yang hanya sendirian hidup di dunia ini. Aku juga punya keluarga. Keluarga yang begitu hangat, dulu. Namun, semua itu telah berakhir. Saat mama dan papa selalu bertengar, memaki serta menggaduhkan seisi rumah dengan omelan dan bentakannya. Mulai saat itu, kehidupanku berubah.
Tanpa aku ketahui, papa dan mama memutuskan untuk bercerai. Hal ini benar – benar mengejutkanku. Bukan hanya itu saja, setelah surat cerai keluar mama segera pergi meninggalkanku. Tanpa pamit tentunya.
Bagaimana mungkin mereka tidak memberitahuku tentang hal itu sebelumnya ? Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu tanpa mempertimbangkan pendapatku ? Apakah mereka berpikir bahwa aku sudah tidak ada di dunia ini ? Apa keberadaanku patut dipertanyakan ? Atau statusku ? Aku ini anak kandung atau anak pungut ? Bayang – bayang itu selalu menghantui setiap langkahku. Bahkan sampai detik ini, aku tak pernah tahu apa penyebab perceraian kedua orang tuaku.
Sejak saat itu, papa bersikap aneh. Ia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Jangankan bercakap – cakap, bertatapan saja tak sempat. Aku benar – benar merasa kesepian.

©©©

Mentari sudah beranjak dari tempat pemujaannya. Cahayanya benar – benar mengusik perjalanan peristirahatanku. Sayup – sayupku dengar teriakan Bi Nani memanggil namaku. Tak kupedulikan. Namun bunyi  jam  wekker  telah berhasil membangunkanku. Terpaksa aku bangun dari mimpi indahku. Dengan mata belum terbuka semua, kulihat jam wekker. Oh, baru pukul 07.00. Aku terdiam sejenak. HAH ??!! PUKUL 07.00 ? teriakku dalam hati. Hidup matiku tinggal 30 menit lagi. Aku langsung berlari menuju kamar mandi.

Setelah menyelesaikan semua kegiatan di kamar, aku turun dan mengambil sepotong roti dari meja makan. Aku bergegas menuju garasi. Kuhidupkan mesin mobilku. Bremm .. Bunyi mobilku melesat sepanjang jalan menuju sekolah. Ditengah perjalanan, Erikha mengirimkanku sebuah pesan.

Xy, kamu di mana sekarang ? Bel sudah berbunyi. Udah kerjain pr mtk, lum ? Matematika pelajaran pertama lho .. Jangan ngebut, santai aja, ok ? Hati – hati ..

Erikha, satu – satunya gadis yang berharga dalam hidupku sekarang. Gadis yang rela berkorban buat diriku yang payah ini. Dia selalu ada untukku, baik waktu sedih maupun senang. Saat aku sedih, dengan rela ia memberikan bahunya untuk meringankan beban di kepalaku. Dia adalah sahabat sejatiku.

Tak terasa aku sudah berada di gerbang sekolah. Hampir saja aku terlambat. Kulihat Erikha telah menungguku  di depan pintu kelas. Aku berlari ke arahnya.
                “ Aku tak bisa hidup tanpa perhatian darimu.” ucapku sambil menarik tangannya dan berlari memasuki kelas. Dia hanya tersenyum.
Kami memasuki kelas, semua teman – teman tengah asyik berbisik – bisik. Aku mendekati Rio ..
“ Ada apa sih, Ri ? Kok temen – temen pada bisik – bisik semua ? ” tanyaku bingung.
“ Oh, masa kamu gak tahu shi, Xy. Itu loh, kita kedatangan murid baru pindahan dari Bandung.
Tapi dia adik kelas kita. Katanya sih anaknya cantik plus centil gitu,  pokoknya sip dech. ” jelas Rio    
                “ Masa iya ? Jadi pengen liat langsung. Hahahha .. ” balasku sekenanya . Pelajaran dimullai. Aku mengikutinya dengan malas. Membuka buku sekalipun tidak.Tet .. Tet .. Itulah yang aku tunggu.

©©©

Matahari sudah berada di atas ubun – ubun. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Semua murid berlari keluar dari kelas yang begitu membosankan. Tiba – tiba .. BRUKKK !!
“ Oh, sorry aku gak sengaja.” ucapku saat menabrak sesosok gadis cantik di depan wajahku. Rasanya aku belum pernah melihatnya. Dia tersenyum padaku.
“ Iya tak apa, Kak.” balasnya lalu berlalu. Jangan – jangan gadis tadi adalah anak baru yang diceritakan oleh Rio tadi pagi. Aku mulai berjalan menuju mobilku. Kulihat Erikha sedang menunggu taksi lewat.
“ Erikha!” teriakku. Dia hanya tersenyum.
“ Ikut aku saja. ” ajakku. Dia mengangguk. Aku mengantar Erikha pulang dulu ke rumahnya.
“ Makasi ya, Galaxy. Sampai ketemu besok. Hati – hati di jalan, ya.” ucapnya sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum dan berlalu dari hadapannya. Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku berpikir dan merenung tentang hidupku yang telah berjalan sampai detik ini. Semua kejadian yang telah menimpaku hingga membuatku menjadi sesosok Galaxy yang seperti ini. Aku teringat akan sesosok ibu yang mendidikku dari kecil. Di manakah dirinya sekarang ? Aku ingin sekali menemuinya untuk melepas rindu.

©©©

Ketika aku menginjakan kakiku di teras rumah, kulihat pintu rumah terbuka. Itu berarti papa sudah pulang. Aku berlari mencari sesosok papa di dalam rumah. Kulihat papa sedang membuka laptopnya di ruang kerja.
                “ Hai, Pa. Sudah lama tidak bertemu. ” sapaku. Papa hanya diam dan pergi berlalu. Senyum pun tak ingin ia berikan kepadaku. Padahal kami sudah tidak bertemu sejak dua bulan yang lalu. Aku berbalik dan berjalan lunglai menuju kamar. Aku ingin mengutarakan isi hatiku saat ini pada Erikha. Namun, saat kuangkat gagang telepon rumah, terdengar suara orang sedang bercakap – cakap.
                “ Apa kamu bilang ? Panti asuhan ? Apakah kamu yakin, anak saya sekarang berada di
panti  asuhan ?” jelas orang itu. Suara itu, suara yang sangat aku rindu. Tepat sekali, itu suara papa. Tapi, apa maksudnya anakku ada dipanti asuhan ? Apakah benar bahwa aku bukanlah anak kandung papa ? Dengan semua sikap dan cara papa menelantarkanku, aku merasa bahwa aku tidak pantas untuk berada di sini. Aku harus menyelidikinya.

Aku kembali mengangkat gagang telepon, tiba – tiba terdengar teriakan papa. Aku terdiam dan melepas gagang telepon itu.
                “ Galaxy, papa sedang menelepon.  Apa kau mau tahu ? Jangan ganggu dan sentuh gagang telepon di atas! Apa kau ingin menguping pembicaaraan papa ? ” teriak papa dari lantai bawah. Aku bergegas menuju kamar. Kuambil handphoneku, aku membutuhkan seseorang yang tepat.

To : Erikha
Erikha, aku mau jemput kamu sekarang, Kita ke lapangan yuk, main basket. Sekalian aku mau cerita. Cepetan siap – siap! Ok ?

Pesan terkirim. Aku segara mempersiapakan keperluanku untuk bermain basket. Basket adalah hidupku. Tanpa basket, mungkin aku sudah menjadi anak yang sakit jiwa. Basket benar – benar menjadi obat mujarap untuk menghilangkan stress.

To : Galaxy
                Ok. Aku tunggu ya.. Jangan lupa bawa minum.

Setelah melihat pesan dari Erikha. Aku melompat dari tangga menuju lemari untuk mengambil kunci mobil. Mobilku melesat menuju rumah Erikha. Aku tak sabar lagi untuk bertemu sahabatku tersayang.

©©©

Aku sudah sampai di halaman rumah Erikha. Erikha belum juga keluar dari rumah. Aku mengetuk pintu. Terlihat Ibu Erikha.
                “ Eh, nak Galaxy. Mau ngajak Erikha main basket ya ? Tunggu sebentar, Erikha sedang memakai sepatu. ”  ucapnya lembut. Sosok perempuan yang sangat aku butuhkan saat ini. Sosok ibu yang perhatian. Aku benar – benar iri pada Erikha.
                “ Hei! Kenapa bengong ?” kata Erikha membuatku terkejut.
                “ Ahh, kamu lelet. Aku udah capek nunggu kamu. ” omelku sambil berbalik menuju mobil. Erikha menarik tanganku. Dan ..
                “ ERIKHA!” teriakku. Aku memeluk Erikha. Hampir saja dia terpeleset.
                “ Erikha, hati – hati dong. Aku gak mau kamu kenapa – kenapa, ok ? ” cemasku. Dia membalasku dengan senyum manisnya. Aku dan Erikha melesat di sepanjang jalan tol menuju sekolah.

©©©

Sampai di lapangan basket, kami langsung melakukan pemanasan dan kemudian mulai bermain basket. Peluh membasahi wajah kami. Dengan lemas, kami duduk di bawah pohon beringin sekolah.
                “ Ahh .. Capek!” teriak Erikha
                “ Kamu tuh kegendutan sih, liat tuh. Baru main kayak gini aja udah capek. Gendut .. Liat tuh, pipi aja kayak lagi makan bakso.” teriakku mengejek Erikha. Padahal Erikha bukanlah gadis yang gendut. Namun pipinya itu memang terlihat seperti orang yang sedang makan bakso. Hahahaha .. 


Erikha marah. Dia balas menggelitikiku. Aku terpingkal ke tanah. Geli rasanya. Gelitik adalah jurus pamungkas milik Erikha. Gelitikan siapa pun tak akan bisa menggantikan gelitikannya.  
                “ Erikha, cukup. Aku geli tau! ” teriakku.
                “ Makannya, jangan ngehina orang. Eh, Xy. Emang aku gendut ya ? ” tanya Erikha polos. Aku tertawa lepas. Erikha memang begitu polos. Walaupun umur kami sudah di atas 15 tahun, namun gaya polosnya itu tak pernah berubah dari dulu.

Aku dan Erikha memutuskan untuk mengehentikan permainan. Mobilku melesat menuju taman tempat kami sering bermain dan bercerita.
“ Xy, aku mau beli minum lagi. Minumku habis. Behenti bentar ya, di ujung jalan ini. Aku rasa di sana ada mini market. ” ucap Erikha.
“ Eh gak usah, aku bawa minum kok. Kamu mau ? ” tanyaku.
“ Nanti kamu minum apa ? ” balasnya kembali mengkhawatirkanku.
“ Nanti ya nanti. Yang penting kamu minum dulu, gih.” paksaku.Mikha tersenyum. Senyumnya manis sekali.
“ Dikantong sebelah kanan, Kha. Jangan cari di kantong sebelah kiri. Kamu kayak gak pernah buka tas aku aja.” ucapku memberikan petunjuk.
“ Iya. Aku tahu. Kamu tuh nyetir aja yang bener. ” balasnya. 

©©©

Pagi ini sama seperti pagi – pagi sebelumnya.Maklum, aku jarang sekali datang pas bel berbunyi, apalagi terlambat.  Hal itu terjadi saat aku sedang banyak pikiran. Biasanya sebelum jam 07.00 pagi berdentang, aku sudah melaju menuju sekolah. Seperti biasanya juga, sekolah masih banyak siswa yang belum datang  termasuk Erikha. Hahaha .. J  Erikha itu sama aja dengan keong. Makanya aku sering manggil dia Si Keong Gendut.
                “ Hai, kak! Lagi nunggu seseorang ya ?” tanya cewek kemaren.
                “ Oh. Iya, aku memang lagi nunggu sahabat. Kamu ? Jangan – jangan kamu anak baru itu ya ?” jawabku terkejut melihat cewek baru ini.
                “ Iya, kok kakak tahu ? Ih, kakak perhatian sama aku ya ? Perkenalkan, nama aku Rasty.” ucapnya sambil menyodorkan tangannya ke arahku. Pede tingkat tinggi nih cewek, pikirku dalam hati.
                “ Hai, Rasty. Aku Galaxy.” jawabku dengan nada yang meniru gayanya berbicara. 
                “ Aku tahu. Kakak itu keren banget, kalau main basket. Kemaren sore kakak main basketkan ? Sama cwe kakak ya ? Tapi kata temen – temen kakak, kakak belum punya pacar ? Sebenarnya kakak udah punya pacar belum sih ?” tanyanya panjang lebar. Apa hubungannya coba? Belum juga seminggu masuk sekolah ini, udah tahu aku suka main basket. Cari tahu masalah aku punya pacar atau nggak ? Nih cewek agak rada – rada kali ya. Capek dech!
                “ Gak, kok. Aku belum punya pacar.” ucapku malas.
                “ Beneran, kak ? Wah, berarti aku masih punya kesempatan dong. Hahaha .. Ya, kan, Kak ?” tanyanya. Pertanyaan yang benar – benar aneh. Ini cewek jadi – jadian kali ya. Ada orang kayak gini. Tuhan, aku harus jawab apa. Bantu aku, Tuhan. Jangan biarkan cewek ini menggangguku terus.
Lamunanku berakhir.
                “ Xy, tumben datang pagi.” tegur Keong Gendut. Terima kasih, Tuhan. Engkau telah menyelamatkanku. Makasih juga, Keong Gendut.
                “ Eh, Erikha. Kenalin ini Rasty. Dia anak baru di sekolah kita. Oh ya, kamu pasti belum sarapan, aku temenin kamu makan ya ?” ucapku buru – buru sambil menarik Erikha.
                “ Tapi .. Aku …” lanjut Erikha. Tapi sudah terlanjurku potong kata – katanya.
                “ Bye, Rasty. See you.” tutupku meninggalkan Rasty sendirian di bangku taman.  Aman.

©©©

Aku dan Erikha sampai di kantin. Kami duduk di salah satu bangku dan terdiam.
                “ Apa maksud kamu sih ? Akukan udah makan pagi.” omel Erikha
                “ Keong gendut, maafin aku ya. Sebenarnya aku tuh gak mau bawa – bawa kamu, tapi .. Ini keadaan darurat. Aku gak mau lagi deket – deket sama cewek aneh itu. Mengerikan!” ocehku panjang lebar.
                “ Tunggu, tunggu. Jelasinnya pelan – pelan dong. Aku gak ngerti sama sekali apa yang kamu bilang. ” balas Erikha.
                “ Cewek itu gila. Baru juga beberapa hari di sekolah ini, dia udah tau semua tentang aku. Mulai dari  aku suka basket, aku suka main basket sama kamu. Bahkan, dia tahu kalau kemaren sore kita main basket.” jelasku tanpa menarik napas.
                “ Dia tahu semuanya ? Benarkah ? ” tanya Erikha tak yakin. Aku mengangguk.
“ Dan untuk kamu tahu, Kha, dia saja sudah tanya pada temen – temen. Apakah aku sudah punya pacar ? ” jelasku lagi.
“ WOW!! Hebat dong. Xy, mestinya kamu bersyukur kalau sekarang ada cewek yang suka sama kamu. Ehh, kamunya malah marah – marah gak jelas.”  ucap Erikha. Aku hanya terdiam, lalu menyembunyikan kepalaku.

©©©

Berminggu – minggu telah berlalu, kini saatnya sekolahku mempersiapkan diri menghadapi sekolah lawan dalam pertandingan basket. Aku sebagai kapten tim basket bekerja keras untuk mempersiapkan tim basket sebaik – baiknya. Kadang rasa lelah dan penat menyelimuti diriku, namun aku masih bersyukur dapat memimpin tim basket ini. Tanpa tim basket ini, aku tidak bisa melupakan suasana rumah yang sangat pengap. Dengan mengikuti ekskul dan bermain basket, aku bisa mengisi waktu luangku dengan lebih baik.

Aku terlalu sibuk latihan hingga sempat melupakan sahabatku tersayang, Erikha. Entah dia ada di mana sekarang. Setahuku Erikha juga sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba pidato provinsi mewakili sekolah. Maka dari itu, kami jarang sekali bertemu.

Hari ini aku memutuskan untuk pulang sekolah bersama Erikha. Kebetulan hari ini juga tidak ada latihan. Semua anggota tim basket diminta untuk beristirahat agar dapat tampil maksimal besok, saat bertanding dengan sekolah lawan. Aku duduk di depan gerbang sekolah, tapi kemana Erikha. Sudah setengah jam aku melamun di sini, tak terlihat juga batang hidungnya.
                “ May, liat Erikha gak ? Aku tunggu dari tadi gak keluar – keluar juga.”  tanyaku pada Maya sahabat Erikha.
                “ Ahh, kamu  Galaxy. Erikha itu sakit. Masa kamu gak tahu sih. Katanya kamu sahabatnya ??” jawab Maya ketus. Dia terlihat marah padaku.
                “ Erikha sakit ? Sakit apa ?” tanyaku lagi. Maya tidak menjawabnya. Dia berlalu dari hadapanku.

Aku pulang ke rumah dengan hati yang resah. Aku gundah dan bingung. Di manakah Erikha sekarang ? Dia sakit apa ? Di rawat di mana ? Aku mau tahu semua itu. Tapi dari siapa ? Oh Tuhan, tolong aku. Aku tak mungkin pergi melihat Erikha. Sekarang sudah pukul 19.00, besok aku ada pertandingan, gak mungkin aku pergi semalam ini. Erikha, maafin aku.

©©©

4 ..
3 ..
2 ..
1 ..
Prittt!! Peluit wasit telah ditiup. Pertandingan babak pertama sudah berakhir. Skor 12 – 15. Kami tertinggal 3 point. Tapi kami semua harus semangat, babak kedua telah menanti. Aku melihat ke selilingku, tak ada Erikha. Biasanya, Erikha selalu datang dan menjadi supporter yang paling kutunggu. Namun, saat pertandingan yang aku tunggu ini, Erikha menghilang. Kamu kemana Erikha ? Tanyaku dalam hati. Hidupku benar – benar hampa tanpanya.

Babak kedua telah dimulai. Kami perlahan – lahan mengejar ketertinggalan. Step by step. Skor sekarang : 20 – 20. Kami harus memenangkan pertandingan ini!!
Tiba – tiba ..
BRUGGGG!! Cittt ..
Aku terjatuh.
                “ Galaxy!!”
                “ Kapten!!”
Semua orang mengerumuniku, hanya kabur yang ada di mataku. Tetapi, apa boleh buat, aku harus tetap melanjutkan pertandingan. Aku tak mau kami kalah. Akan kubawa piala ini pada Erikha sebagai permohonan maafku. Sesulit apapun, aku mencoba untuk berdiri dan kembali bermain. Apa – apaan tim SMA 66, bermain kasar. Aku akan membalas semua perlakukan mereka terhadapku dengan point – point maut.

©©©


Rumah sakit ..
                “ Siang, mbak. Bagaimana keadaan mbak sekarang ?” tanya suster sambil membawa bubur dan teh hangat.
                “ Eh, suster. Udah agak baikan, Sus. Hari ini makan bubur lagi ya, lain kali ganti – ganti dong, Sus.” omel Erikha.
                “ Aduh Mbak Erikha, masa makan bubur enak gini gak mau. 5 kali satu bulan, Mbak. Mbak kan gak dirawat setiap hari di sini. Cuma 5 hari dalam sebulan aja udah ngomel, gimana yang bertahun – tahun ?” jelas suster.
                “ Itu beda, Sus. Sayakan pasien special. Hahahaha ..” jawab Erikha polos.

Kregg ..   Bunyi pintu ruang rawat terbuka.
                “ Permisi ..” ucap orang itu.
                “ Sus, siapa itu ? ” tanya Erikha.
                “ Oh, mas Angkasa. Silahkan masuk, Mas. Sudah lama, Mas Angkasa gak dirawat inap juga ..” balas suster.
                “ Angkasa ? Sudah lama ? Apa sih maksudnya ?” tanya Erikha.
                “ Mbak Erikha, Mas Angkasa itu sama kayak Mbak. Dia suka pergi, gak rawat inap terus – terusan. Ada cutinya juga. Selain itu, karena dia berasal dari panti asuhan, Mas Angkasa harus kerja untuk membantu perekonomian panti asuhan tempat ia tinggal.” jelas suster, lalu pergi.

Sekamar dengan Angkasa ? Siapakah dia ? Pasien rawat inap yang suka melarikan diri sama sepertiku. Berasal dari panti asuhan ? Lalu, kenapa dia bawa gitar ? Apa dia seorang penyanyi ? Muncul pertanyaan seperti itu dibenak Erikha. Ia bingung.

                “ Hai, aku Angkasa.” sapa cowok itu.
                “ Galaxy ? Kamu..” ucap Erikha.

©©©

Pertandingan tinggal hitungan menit lagi. Tak ada waktu yang tersisa untuk bermain – main. Aku sudah benar – benar lelah. Huh! Keringan membasahi seluruh tubuhku. Skor sementara : 23 – 25. Kami tertinggal lagi. SMA 66 bukanlah lawan yang mudah untuk dikalahkan.
7 ..
6 ..
Cit .. Citt .. Bunyi sepatu yang begesekan dengan lantai lapangan. Bola sudah sampai ditanganku. Three point hanya satu – satunya cara untuk memenangkan pertandingan ini. Aku sudah tepat di tengah lapangan. Semua mata tertuju padaku. Apa yang harus aku lakukan ?
4 ..
3 ..
Perlahan tapi pasti kulemparkan bola itu tepat ke arah ring. PLUBBBB!! Masuk !!
1 ..
0 ..
Priitttt!! Peluit tanda pertandingan selesai telah berbunyi .. Skor terkhir :26 – 25. Kami MENANG !! Hahaha .. Terima kasih, Tuhan. Semua hal ini adalah kehendakmu. J

Aku yang memegang piala ini. Aku yang membawanya pulang hari ini. Aku benar – benar bahagia.
                “ Aku persembahkan piala ini untuk sekolah, tim dan ERIKHA!!” teriakku sambil memluk piala ini.
Aku turun dari panggung dan mencari Maya. Mataku ini tak pernah berhenti mencari. Kulihat Maya di depan pintu sekolah. Aku berlari ke arahnya .. Namun ..
                “ Hai, Kak .. Kakak keren banget tadi !!” ucap Rasty menghentikan langkahku.
                “ Makasi .. Emm ..” ucapku. Belum selesai aku membalas perkataan Rasty, cewek aneh ini sudah memotongnya. Memang orang yang aneh. Mana aku mau mengejar Maya. Ahh .. Bodoh!!
                “ Kak daripada kakak kesepian di rumah, mendingan kita jalan aja yuk. Aku juga lagi bosen nih.” ajak Rasty.
                “ Aku .. Iya, aku mau pergi bareng Erikha ..” ucapku terbata – bata. Aku tak mau pergi dengannya.
                “ Hahaha .. Kak Erikha kan gak ada. Kak Erikha itu sakit. Ya, kan ? Kakak gak punya alasan lagi untuk menolak.” bantah Rasty.

Erikha, aku membuthkanmu. Aku membutuhkanmu sama seperti saat itu. Hanya kamu malaikat penolongku. Keong Gendut !

©©©
Apa yang aku lakukan ?? Sahabatku sedang sakit, aku tak tahu dia dirawat di mana ? Bahkan untuk datang ke rumahnya saja aku tak sempat. Bagaimana ini ? Sekarang, aku malah jalan – jalan sama orang yang belum aku kenal dengan baik. Erikha. Kamu di mana ? Kenapa telepon aku tak kamu angkat ? Aku benar – benar mencemaskan kamu. Sudah  4 hari aku tidak melihatmu. Apa yang terjadi sih ?
                “ Kakak, kita jalan ke sana yuk ?” ajak Rasty sambil menggandeng tanganku. Aku hanya diam, mengikutinya. Aku tak tahu lagi apa yang sedang menimpa diriku.
                “ Emm .. Kak, yang ini cocok gak ? Menurut kakak, lebih bagus putih atau hitam ?” tanya Rasty saat memilih baju. Aku tak pernah membayangan semua hal yang terjadi dihadapanku sekarang.

Kurang lebih 1  1 /2  jam aku menunggu Rasty memilih baju. Di sini sama saja seperti di rumah, walaupun gaduh tapi tak ada seorang pun yang bisa mengerti aku. Aku hanya ingin istirahat sejenak. Aku ingin melepaskan semua kegundahanku. Aku tidak membutuhkan orang lain. Aku hanya ingin bertemu Erikha. Biasanya dia selalu menghubungiku, tapi kenapa sekarang dia benar menghilang ?
                “ Kakak, aku udah selesai.Kita makan yuk!” ajak Rasty lagi. Aku mengangguk.

Kini kami telah duduk di salah satu meja restaurant. Rasty yang memesan semua makanan. Aku hanya bisa menenggelamkan kepalaku di antara kedua tanganku. Rasanya aku ingin tertidur di sini.Rasty pergi ke kamar mandi. Aku sendirian. Suasana di sini sangat mengasyikkan, sayangnya aku tak bisa merasakannya. Aku hanya bisa membisu dan terpaku dengan semuanya. Begitu indahnya hidup bila bisa menghabiskannya dengan penuh senyum.

                “ Kak, aku ingin ngomong sesuatu.” ucap Rasty setelah selesai dari kamar mandi. Aku menggangguk. Namun, masih tetap kutenggelamkan kepalaku di antara kedua lenganku. Rasa kantuk mulai menjalar ditubuhku dan aku pun mulai memejamkan mata.
                “ Aku suka sama kakak. Emm .. Kakak mau gak jadi pacar aku ?” tanya Rasty. Aku diam. Aku sudha terlelap dalam tidurku. Aku tak ingin diganggu dengan pembicaraan aneh. Rasty mengagetkanku. Dia menggoyang – goyangkan tanganku sambil terus memanggilku.
                “ IYA! Apa lagi sih ?” jawabku lantang.
                “ Beneran ? Makasih, kakak. Kakak memang orang terbaik yang pernah aku kenal.” ucap Rasty lalu memelukku.
                “ Apa maksudnya ini ?” tanyaku bingung.
                “ Ahh, kakak. Jelas – jelas kakak yang bilang iya. Berarti sekarang kita sudah jadian, kan ?” jelas Rasty sambil tetap memelukku.
                “ APA !!” teriakku.

©©©

Aku membanting tubuhku di ranjang. Aku benar – benar lelah. Lelah fisik juga lelah rohani. Bagaimana mungkin aku sudah jadian sama Rasty ? Dia menembakku pun aku tak mendengarnya. Astaga !! Apa yang sedang aku lakukan ? Bisa – bisanya aku jadian cewek yang tidak aku sukai. Aku gila !!

Aku terbangun mendegar suara Bi Nani yang memangilku.
                “ Den, tadi ada telepon dari Non Erikha.” ucapnya mengagetkanku. Aku melompat dari tempat tidur dan membuka pintu kamarku.
                “ Bi, tadi apa yang Erikha bilang ? Apa dia baik – baik saja ?” tanyaku.
                “ Bibi gak tahu, Den. Tadi yang pasti Non Erikha bilang, selamat aden menang lomba basket. Maaf gak bisa nonton aden.” jelas Bi Nani.
                “ Beneran Bi ? Cuma segitu doing ? Gak ngomong yang lain lagi ?” tanyaku pada Bi Nani. Aku senang sekali mendengar kabar dari Erikha. Namun, kenapa dia tidak langsung menelepon ke HPku saja ? Aku mengucapkan terima kasih pada Bi Nani lau beranjak menuju kamar mandi. Aku harus menemukan Erikha, apapun halangannya !

©©©

Angkasa ? Benarkah dia itu Angkasa ? Mengapa dia begitu mirip dengan Galaxy ? Apa hubungan mereka ? Oh, Tuhan. Apa Galaxy punya saudara ? Saudara kembar ?
                “ Erikha, kamu suka dengerin musik ?” tanya Angkasa pada Erikha sambil memegang gitarnya.
                “ Hah ? Musik ? Suka dong.” jawab Erikha semangat. Angkas bernyanyi di dalam ruang pasien.


Kubuka suratmu dan kubaca dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku
Di dalam hari – harimu
Bersama lagi
Semua kata rindumu semakin membuatku
Tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu
Kuakan pulang melepas semua kerinduan yang terpendendam ..

                “ Suara kamu bagus. Pasti kerjaan kamu nyanyikan ?” tanya Erikha.
                “ Hahaha .. Pinter. Iya aku memang penyanyi. Tapi cuma nyanyi di café – café kecil.” jelas Angkasa.
                “ Gak apa itu permulaan yang baik. Angkasa aku mau tanya bener kamu dari panti asuhan ?” tanya Erikha penasaran dengan kebetulan ini.
                “ Iya. Kata ibu di panti, aku itu sudah ada di panti sejak kecil karena orang tuaku hilang. Mereka sepertinya tidak tahu kalau anak mereka itu kembar. Jadi aku ditinggal berbulan – bulan di rumah sakit. Lalu pihak rumah sakit, menitipkan aku di panti asuhan.”  jelas Angkasa.
                “ Kembar ya? Wah, kayaknya orang tua kamu tuh melakukan kesalahan terbesar. Anak yang pinter gini ditinggalin. Hahaha .. J” ucap Erikha.
                “ Hahaha .. Bener juga tuh, aku kan pinter.” balas Angkasa.
                “ Angkasa kamu lahir di rumah sakit mana ?” tanya Erikha. Sepertinya Erikha ingin mencari tahu apakan ada hubungan di antara Galaxy dan Angkasa ?
                “ Di rumah sakit Kasih Ibu. Di sana katanya tempat lahiran anak – anak orang kaya. Hahaha .. Berarti aku anak orang kaya dong.” jelas Angkasa.
                “ Ohh .. Iya bener.” jawab Erikha.
                “ Aku bentar lagi ulang tahun lho .. Hahaha .. Ulang tahun kok ngasih tahu orang.” ucap Angkasa sambil tertawa. Benar sama seperti Galaxy. 14 Mei ..
                “ Kapan ?” tanya Erikha memastikan.
                “ Tanggal 14 Mei.” jawab Angkasa.
                “ Angkasa, pernah gak kamu coba untuk cari tahu siapa orang tua kamu ?” tanya Erikha lagi. Angkasa terdiam sejenak.
                “ Pernah, tapi gak ketemu. Sejak saat itu, aku terima saja semuanya. Mungkin orang tuaku begitu bodoh sampai tak tahu kalau anaknya tertinggal.” jelas Angkasa sedih. Raut wajah yang ceria berubah menjadi lesu.

©©©

Kini, aku telah berada tepat di depan pintu rumah Erikha. Ting .. Tong ..
                “ Permisi .. Ada orang ?”
                “ Eh, Den Galaxy. Kenapa, Den ? Cari Non Erikha ya ?” tanya Bi Surti. Bi Surti adalah pembantu di rumah Erikha.
                “ Bibi, sudah lama gak ketemu. Iya, Erikha mana ?” jawabku.
                “ Lho, Den gak tahu toh. Non Erikha ada di rumah sakit.” jelas Bi Surti.
                “ Rumah sakit mana Bi ?” tanyaku.
                “ Rumah sakit Harapan.” jawab Bibi.
                “Saya permisi dulu ya, Bi. Maaf mengganggu.” pamitku. Aku melesat sepanjang jalan menuju rumah sakit. Sebelum itu aku mampir dulu ke floris untuk membeli beberapa tangkai bunga. Senang sekali rasanya kalau bisa bertemu dengan Erikha lagi. Emm .. Empat hari serasa seminggu.

©©©

Kini aku telah sampai di Rumah Sakit Harapan. Segera aku bertanya kepada bagian informasi untuk mengetahui di mana Erikha berada. Tak bisa lagi aku menahan keinginanku untuk bertemu Erikha, kulangkahkan kakiku dengan cepat. Makin cepat, hingga aku berlari.

Kreeeggg .. Bunyi pintu ruang rawat yang kubuka. Menurut informasi dari perawat ini adalah kamar Erikha.
                “ Erikha ?” tanyaku sambil membuka pintu. Aku terdiam. Mematung dan membeku. Aku terkejut melihat orang itu. Apa ini mimpi ? Atau aku sedang berada di depan cermin ? Mengapa wajah kami benar – benar sama ? Hanya baju saja yang membedakan kami. Siapa dia ? Mengapa dia bisa sekamar dengan Mikha ? Apa yang dia lakukan di kamar Erikha ? Semua pertanyaan itu bergelantungan di kepalaku.
                “ Galaxy ?” ucap Erikha ketika melihatku.
                “ Galaxy ? Siapa dia, Kha ? Mengapa dia mirip denganku ? ” tanya Angkasa melihatku bingung. Aku pun begitu. Erikha turun dari tempat tidurnya. Dia mencabut infusnya dan berlari ke arahku. Dia memelukku lalu menarikku masuk.
                “ Galaxy, jangan salah paham dulu. Duduk dan dengerin aku, ya. Di sini mungkin yang sudah menyadari hal ini cuma aku. Jujur waktu pertama kali tahu hal ini, aku juga kaget dan terkejut. Tapi lama kelamaan aku jadi tahu hal yang sebenarnya.” jelas Erikha.
                “ Langsung to the point aja, Kha. Aku gak bisa nunggu lama – lama. ” tegas Galaxy.
                “ Angkasa, saudara kembar kamu yang selama ini kamu cari adalah Galaxy. Galaxy, Angkasa adalah anak yang berasal dari panti asuhan yang pernah kamu dengar di pembicaraan telepon papa kamu.” lanjut Erikha.
                “ Jadi kamu ?” ucap aku dan Angkasa sambil saling menunjuk. Bagaimana mungkin aku mempunyai saudara kembar ? Sangat – sangat tak mungkin ! Kalau begitu kemana saja dia selama ini ? Mengapa sekarang baru muncul ?
                “ Kalian berdua tuh saudara kembar, tahu ? ” omel Erikha melihat kelakuanku dan Angkasa yang terihat aneh. Erikha menarik tanganku dan Angkasa, lalu meminta kami berpelukan. Rasa yang aneh menyelimuti tubuhku. Melihat seseorang yang sangat mirip dengan dirimu bukan hal yang mudah, bukan ? Itu membutuhkan kesiapan mental yang sangat kuat. Aku hanya terdiam, masih dalam kebekuan.
                “ Aku Angkasa. Salam kenal.” ucap Angkasa memulai pembicaraan. Diulurkannya tangannya ke arahku. Aku tersenyum.
                “ Aku Galaxy. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu. Tapi kenapa kamu dirawat di rumah sakit ? ” tanyaku mulai akrab dengannya. Padahal saudara kandung, bahkan kembar tapi untuk berbicara saja canggung sekali rasanya.
                “ Aku dirawat di rumah sakit sekedar untuk meyakinkan dokter bahwa kakiku sudah sembuh. Kurang lebih 2 minggu yang lalu, aku kecelakaan. Lalu, sempat koma selama 5 hari.” jelas Angkasa.
                “ Gitu dong, akrab. Kan kelihtan kalau kalian tuh kakak beradik.” tawa Erikha. Memecahkan suasana, Erikha memang tahu semua kondisi. Anak yang lucu dan ngangenin.
                “ Ehh, keong gendut jelek. Kamu tuh emang ya, buat orang jadi takut dan ngerasa bersalah.” omelku pada Erikha. Enak saja, katanya dirawat di rumah sakit, tapi menegapa HP dimatikan terus.
                “ Tunggu dulu. Emang apa salahku ?” tanya Erikha.
                “ Mau tahu apa saja deretan kesalahan Erikha ? Sini aku jelaskan. Satu, menghilang. Dua, HP gak bisa dihubungi. Tiga, jelek. Empat, nyebelin. Lima, karena kamu aku kayak orang linglung. Bagaikan pohon tanpa batang. Kesimpulan, empat hari ini hidupku kacau karena kamu semuanya.” omelku tak berhenti – henti.
                “ Tapikan aku ..” ucap Erikha terhenti. Aku langsung mendorongnya ke kursi roda dan membawanya pergi. Pergi ketempat yang jauh,untuk bercerita panjang lebar. Empat hari tidak ketemu sudah segudang cerita yang ingin aku utarakan.


©©©

Udara sore hari benar – benar menyejukkan. Aku mengajak Erikha ke taman rumah sakit. Taman yang begitu indah. Penuh dengan bunga bermekaran dan terbentang luas rumput yang hijau mempesona.
                “ Xy, kenapa ?” tanya Erikha karena ia bingung mengapa ia dibawa ke taman rumah sakit. Badannya yang kian lama makin mengurus membuatku sedih melihatnya. Erikha berdiri dan berbalik menghadapku yang kini persis di depannya. Aku tak sanggup melihat matanya. Aku langsung memeluknya.
                “ Maafkan aku. Maafkan aku yang tak pernah menjadi sahabat yang baik buat kamu. Maafkan aku yang terlambat megunjungi kamu dan maafkan semua kelakuanku yang salah terhadap kamu, Kha.” sesalku sambil tetap memeluk Erikha.
                “ Hei, jangan menangis. Aku tak apa. Aku tahu kamu sibuk dengan basketmu. Lagian aku gak mau buat kamu khawatir sama aku.Gimana basket ? Apakah kita menang ? ” jawab Erikha polos.
                “ Siapa yang menangis ? Aku hanya merasa bersalah.  Basket kita menang berkat kamu, karena itu aku persembahkan pialanya untuk kamu ya. Aku persembahkkan untuk sahabat terbaikku.” jawabku sambil menarik tangannya untuk duduk disampingku.
                “ Ada apa ? Pasti ada kejadian aneh lagi.” tebak Erikha. Diletakannya kepalanya diatas bahuku.
                “ Aku, aku .. Aku gak sengaja jadian sama Rasty.” jawabku lelah.
                “ Tunggu .. Jadian sama Rasty ? Gak salah ? Kata kamu dia bukan cewek yang kamu suka .. Terus itu artinya apa ? ” tanya Erikha.
                “ TIDAK SENGAJA !!” teriakku. Aku memang pacarnya Rasty tapi hanya satu cewek yang ada di dalam hatiku yang sesungguhnya.
                “ Bagus, lanjutkan saja. Sebulan putus. Bukannya kamu gak mau hal ini berlanjut terlalu jauh ?” tanya Erikha.

Tak sengaja, Angkasa melihat dan mendengar semua yang dilakukan oleh Galaxy dan Erikha.
                “ Kenapa aku jadi begini ?Padahal aku dan Erikhakan gak punya hubungan apa – apa tapi mengapa aku merasa ..” ucap Angkasa.
                “ Tidak .. Ini tidak benar. Aku tidak menyukai Erikha. Erikha hanya milik Galaxy. Ingat Angkasa, Galaxy adalah adikmu sendiri.” ucap Angkasa yang kini tengah bingung dengan perasaannya terhadap Erikha.

©©©

Teng .. Teng .. Jam pelajaran telah berakhir. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Aku dan Erikha tengah berjalan bersama menuju parkiran. Erikha pulang bersamaku, aku tak mau terjadi sesuatu padanya. Tiba – tiba ..

                “ Heh! Kamu yang namanya Galaxy ?” tanya seseorang yang telah sedari tadi seperti menungguku di depan gerbang sekolah. Wajahnya terlihat sangat marah. Mengerikan.
                “  Kamu ? Bukannya kamu itu tim basket SMA 66 ?” tanyaku bingung.
                “ Benar sekali, kamu pintar juga ya. Aku, Richad, datang untuk membuat peritungan denganmu.” ucapnya marah.
                “ Apa maksud kamu ?” tanyaku lagi. Richad makin mendekat ke arahku. Dia menarikku. Perasaanku sudah mulai tidak enak. Apa yang akan ia perbuat terhadapku ?Oh Tuhan apa salahku ? Kudengar teriakan Erikha yang sedang mengejarku menuju pintu sekolah.
                “ Galaxy !! Hei !!” teriak Erikha.
Bruugggkk!!!

©©©

Mataku terbuka perlahan, sudah kulihat Erikha di sampingku. Seluruh badanku remuk, sakit sekali rasanya. Aku tak bisa berbuat apa – apa, tanganku lemah. Bahkan menyentuh Erikha pun aku tak mampu.
                “ Aku di mana, Kha ? ” tanyaku pada Erikha. Sekilas kulihat dia sedang menangis. Oh Tuhan, Erikha memang gadis yang begitu baik.
                “ Kamu ada di rumah sakit. Kamu dihajar habis – habisan sama orang jahat itu.” jelas Erikha masih terisak. Dia menangisi aku yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ironis sekali.
                “ Hei, kamu gak usah nangis dong. Aku gak sakit kok. Santai aja ya.” ucapku menghibur Erikha. Mana mungkin aku tidak merasakan sakit, jelas – jelas badanku remuk semuanya.
                “ Galaxy, Richad adalah kakak Rasty. Dia marah sama kamu karena dia masih belum bisa menerima kekalahannya karena kamu dan karena dia tahu kamu hanya mau mempermainkan adiknya.” jelas Erikha lagi sambil memegang erat tanganku. Rasty masuk ke ruang rawatku. Dia langsung memelukku. Aku meringis kecil, dia terlalu kuat mendekapku.
                “ Maafkan kakakku ya, Kak. Dia memang kurang ajar.” ucap Rasty. Aku berpikir daripada aku mati dalam rasa bersalah dan bingung. Lebih baik aku, bongkar semuanya.
                “ Rasty, aku minta maaf sebelumnya. Sepertinya, ini memang pantas aku dapatkan dari kakak kamu. Itu semua karena jujur aku tak pernah mau menjadi pacar kamu. Kejadian itu hanya tidak disengaja. Waktu kamu meminta aku menjadi pacarmu saja aku tak mendengarnya. Maafkan aku ya.” jelasku sambil menatap Rasty.
                “ Kakak, kamu .. Kenapa tidak bilang dari awal ? Aku sudah terlanjur sayang sama kamu.” jawab Rasty sambil berlari keluar dan tak kembali lagi.

Kini di rumah sakit hanya tinggal aku dan Erikha. Dia masih sibuk membereskan barang – barangku.
                “Galaxy, tadi papa dan mama kamu ke sini. Angkasa juga ada.” ucapnya tapi tak menatapku. Aku sudah tidak bisa memendam perasaan ini terlalu lama, aku harus mengutarakannya sekarang juga. Aku tak bisa hidup tanpa Erikha. Tapi, aku tahu Angkasa, kakakku juga menyukai Erikha. Gadis secantik dan sebaik Erikha tak mungkin mau menjadi pacarku. Apalah aku ini ? Cowok jelek, nakal, bodoh dan sekarang tak bisa apa – apa. Ahh, apa tak ada yang bisa membuat diriku dibanggakan oleh orang lain ?

Perlahan tapi pasti aku mulai memaksa badanku untuk berdiri dan berjalan. Aku ingin memeluk Erikha.
                “ Galaxy !! Apa yang kamu lakukan ? Katanya badannya sakit, gak bisa ngapa- ngapain.” ucap Erikha sambil menatapku dalam sekali.
                “ Tapi hal ini harus aku lakukan. Erikha, apa kamu mau menjadi pa …” ucapku terputus.

©©©
Terlihat tiga orang sedang berdiri di ambang pintu. Aku terkejut. Benarkah mereka melihatku dari tadi ?
                “ Papa ? Mama ? Angkasa ? Kok kalian ?” tanyaku. Aku benar – benar bingung. Angkasa membawa kalender di tangannya. Untuk apa kalender itu ?
                “ Lanjutkan saja dulu, baru kami memberitahu apa tujuan kami datang ke sini.” jawab Angkasa sambil tersenyum.
                “ Hei kau, kakak baru. Jangan begitu.” teriakku. Semua tertawa. Aku kembali menatap Erikha.
                “ Maaf tadi terputus . Emm .. Erikha, apa kamu mau menjadi pacarku ?” ucapku perlahan – lahan tapi pasti.
                “ Hahahaha.. Mana mungkin Erikha mau menjadi pacarmu kalau begitu. Bicara saja gugup.” teriak Angkasa mengejekku.
                “ Hei, pengamen. Kemana – mana bawa gitar, tutup mulutmu.” ejekku lagi. Mama masuk dan langsung memelukku.
                “ Sayang, mama minta maaf. Semua hal ini terjadi karena keteledoran mama. Ya, walaupun mama sekarang bukan istri papa lagi, tapi mama tetaplah mama dari Angkasa dan Galaxy mama tersayang. Maafkan mama sudah pergi begitu lama.” ucap mama sambil menangis.
                “ Mama, jangan begitu. Galaxy tidak apa – apa kok. Galaxy tahu sekarang mama sudah punya keluarga baru kan ? ” ucapku menghibur mama.
                “ Iya, dan di luar ada anak – anak mama.” ucap mama lagi. Aku melihat ke arah pintu masuk. Apa ?
                “ Richad ? Rasty ?” tanyaku. Kenapa semua ini seperti kebetulan ya?
                “ Maafkan aku ya, aku hanya orang yang belum bisa mengendalikan emosiku. Ternyata kita bersaudara, Xy.” ucap Richad sambil mengulurkan tangannya. Aku tersenyum. Aku memang sudah memaafkannya.
                “ Kakak, walaupun kita sudah putus. Tapi, aku lebih senang menjadi adikmu.” tawa Rasty. Ya, memang sekarang Rasty bukan pacarku tapi adikku. Itu terlihat lebih mudah dan menyenangkan.
                “ Galaxy, maafkan papa juga ya terlalu ribuk dengan pekerjaan. Sesungguhnya papa benar – benar menyayangimu.” ucap papa tersedu.
                “ Tenang pa, Galaxy tahu itu.” jawabku sambil tersenyum.

Semuanya tersenyum sepertinya hari ini adalah hari yang membahagiakan.
                “ Tunggu, sebelum kalian semua pergi. Aku ingin bertanya satu hal saja. Kenapa kau membawa kalender, Sa ?” tanyaku pada Angkasa.
                “ Benarkah kau tidak tau, Raja tidur ?” tanya Angkasa membuatku bingung.
                “ Raja Tidur ?” tanyaku lagi tak percaya.
                “ Mintalah pacarmu untuk mengutarakannya.” teriak papa. Semua orang mengangguk. Erikha mendekat ke arahku.
                “ Kamu sudah sebulan koma.” ucapnya lembut sambil menyentuh rambutku.
                 “ Benarkah ? Aku tak merasakannya.” ucapku santai. Semua orang telah memegang bantal dan akan melemparku dengan bantal itu. Aku terancam. Aku memeluk Erikha.
                “ Galaxy!!” teriak Erikha. Bantal itu kini mengenai kami. Hahaha .. Senangnya punya keluarga yang indah lagi. Salah, sebenarnya ini lebih indah dari keluargaku yang sebelumnya. Semua memang akan indah pada waktunya. Kini aku mempercai perkataan itu. Semua kesulitan beban serasa menghilang sejenak bila kita sedang asyik bermain dengan orang – orang yang menyayangi kita.