Halaman

Selasa, 03 Juli 2012

Love ~ Part 2

Hai, sudah tak sabar y, membaca kelanjutannya..
Come on~ Next the story..
Here you go..
=======================================================================

~Cewek baru itu~

Teng! Bel berdentang kencang. Menandakan telah tiba saatny kami untuk fokus ke pelajaran. Kelas² sudah terlihat ramai dengan murid², termasuk kelas Yuki. Yuki telah siap dengan seabrek buku pelajaran di atas meja, sementara Stefan hanya berleha – leha dan meletakan kepalany di atas meja.
“Stef!”
“Ada apa, Ky?”
“Kamu niat sekolah gak sih?”
“Sebenarny niat, tapi..”
“Tapi apa?”

~STEFAN POV!
Aku terdiam. Mana mungkin aku bisa menjawabny, jika alasan sebenarny adalah aku MUAK melihat kelakuan Bryan. Setiap hari selalu tebar pesona. Huh! Dasar tukang TP – TP! Rasanya aku mw berteriak, gk bisa ya sehari aja gk bikin kelas riuh teriakan cewek² yg sibuk mw deket² dia. Aku? Iri? Mungkin, tapi yang pasti aku sebal. Kelakuanny benar² untuk memamerkan kepada dunia, inilah Bryan cowok paling dipuja² wanita. Errgg!!

Pelajaran baru saja dimulai, Bu Ratna memasuki kelas dengan menggiring seorang gadis manis berambut panjang. Sepertiny dia anak baru. Cowok² di kelas pada heboh bersiul, sementara yang cewek² pada manyun gk jelas. Takut kalah pamor kali y? Hahaha. Aku tidak peduli. Bu Ratna mempersilahkan cewek itu untuk memilih tempat dudukny.
“Benarkah saya boleh memilih ?”
“Iya tentu saja.”
“Saya mau duduk di sebelah cowok itu, Bu.”
“Stefan?”

Wah, kurang ajar banget sih nih cewek. Baru juga hari pertama masuk sekolah udah cari masalah aj. Bisa² ny dia bilang, mw duduk di sebelahku. Itu berarti Yuki ku yg manis akan pindah dari sisiku. Yuki memandangku. Dia mengisyaratkan bahwa ia akan pergi, pindah tempat duduk maksudny.

Aku tak sanggup melihatny, kupegang erat tanganny. Aku tak mw dia pindah. Ahh! Sial! Ini semua gara² cewek baru itu. Kenapa dia harus duduk di sebelahku? Hingga membuatku harus berpisah dengan sahabatku. Aku benar² geram.

Aku bangun dari bangkuku. Tanganku tetap menggandeng erat tangan Yuki.
“Bu, apa saya harus duduk dengan dia? Saya sudah nyaman duduk dengan Yuki.”
“Stef, sudah tak perlu marah². Biarkan aku pindah. Aku tak pindah jauh. Hanya berselang dua orang dari tempat dudukmu.”
Yuki terlihat tegar. Aku tak tw, sebenarny dia memang tegar atw memang dia tak mw lagi duduk denganku. Buatku itu tidak penting, yang aku ingin kan hanyalah Yuki tetap duduk di sampingku.
“Stef, sebagai anak baru apa salahny jika kita membiarkan dia untuk memilih tempat dudukny.”
“Tapi, Bu. Saya..”
“Sudah, Stefan jangan banyk protes. Oh ya, ibu minta tolong kamu perkenalkan sekolah ini kepada Chika y.”
“Iya, bu.”

Ah! Aku benar² marah kali ini. Chika? Siapa gadis itu? Awal bertemu denganny saja sudah membuatku geram.

~YUKI POV!
Aku pindah tempat duduk demi seorang teman baru yang ingin duduk bersama Stefan. Kulihat Stefan sangat marah padany, namun aku tak mw menampilkan raut yg sama. Aku takut Stefan akan memusuhi gadis itu. Aku lebih memlih pindah dengan tenang dan tegar, walaupun sebenarny aku tak mw karna aku telah nyaman duduk bersama denganny.

Pelajaran kembali dilanjutkan, sebentar saja kularikan perhatianku menuju Stefan. Kulihat wajahny benar² semraut. Sepertiny dia sangat marah dan jengkel. Aku hanya tersenyum. Stefan sangat lucu dan manis saat marah. Andai saja aku masih bisa duduk di sebelahny.

Istirahat dimulai, semua siswa berhamburan keluar kelas. Yang tersisa hanya aku, Stefan, Kevin dan gadis baru itu, Chika namany. Aku memandang Stefan dari jauh. Dia masih terlelap dalam tidurnya, ditutupi oleh buku cetak yg terbuka tepat di depan wajahny. Biasalah, jika ia sudah bosan dan penat yang akan selalu dilakukanny ialah terlelap. Aku masih sibuk merapikan tasku, mempersiapkan buku untuk perlajaran sehabis istirahat. Tiba – tiba ..
“HAH!”
Stefan bangun dari tidurny dan berteriak. Membuat aku, Kevin dan Chika terkejut.
“Heh, cewek baru! Kenapa sih loe mesti duduk di sebelah gue?”
“Emangny kenapa? Aku bebas menentukanny.”
“Ya, tapi kenapa gue sih! Loe tuh bikin gue pangen runtuhin dunia ini.”
“Stefan. Kamu ngomong apa sih?”
Aku bingung melihat Stefan. Sepertiny dia belum bisa menerima ini. Dia berjalan ke arahku, mengusir Kevin dan duduk tepat di sebelahku, di tempat duduk Kevin. Dia meletakan kepalany di pundakku dan lanjut terlelap. Kuelus pipiny, menyebut namany namun dia tetap terdiam dan tak melepaskan genggaman tanganny di antara jari² ku. Entah sejak kapan tangan kami bersatu, aku tak menyadariny.

~STEFAN POV!
Aku tidak tertidur, tetapi hanya memejamkan mata. Aku lelah sekali. Di pagi hari yang cerah sudah terjadi banyak hal dalam hidupku. Aku merasakan lembutny tangan Yuki di wajahku. Aku juga mendengar beberapa kali sebut namaku oleh ny. Namun aku masih nyaman dalam posisi ini. Hanya istirahat yang bisa kugunakan untuk melakukan ini.

Suara hentakan kaki berjalan ke arah kami. Aku tak memperdulikanny.
“Yuki, kamu dan Stefan dipanggil Bu Hanny.”
“Eh, kenapa emangny?”
“Gak tw juga sih..”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Makasih ya..”
Dapat kudengar dari suaranya bahwa Yuki sangat khawatir. Mungkin ia takut dan bingung. Memangnya apa salah kami? Aku juga jadi berpikir apa maksud Ibu Hanny memanggil kami.
“Stef..”
Berkali – kali Yuki memanggilku, mencoba membangunkan ku dari tidur pasluku.
“Apa, Ky?”
“Kita dipanggil Bu Hanny.”
“Kenapa?”
“Aku gak tau, Stef.”
“Sekarang?”
“Ya iyalah. Kapan lagi?”
“Ya sudah ayo kita pergi.”
Aku menggenggam jariny dan menarikny pergi keluar menuju ruangan Bu Hanny.

~YUKI POV!
Kami sudah sampai di ruang Bu Hanny, aku takut. Tapi bingung jg sih, kenapa kami dipanggil?
Apa salah kami?
“Yuki – Stefan, terima kasih sudah segera datang ke ruangan ibu.”
“Iya, bu. Tapi kenapa ibu memanggil saya dan Yuki?”
“Karena ada sesuatu yang harus ibu tanyakan dan ketahui dari kalian..”
“Apa itu, bu?”
“Bisa kah ibu langsung mengatakanny?”
“Tentu saja, bu.”
“Apa kamu dan Yuki sedang menjalin hubungan sekarang? Pacaran, mungkin ?”   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar